Business & Human Rights Resource Center (BHRRC) meluncurkan hasil riset terbaru berjudul: “Menggerakkan Kendaraan Listrik: Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Lingkungan dalam Rantai Pasokan Nikel di Asia Tenggara”. Peluncuran riset di Indonesia diselenggarakan bersama organisasi non-profit Satya Bumi di Hotel Aryaduta, Menteng, Jakarta, pada Selasa lalu.

Riset BHRRC ini menyoroti dua rantai pasokan nikel penting di Asia Tenggara yang mendukung produksi kendaraan listrik global, yakni: Rio Tuba Nickel Mining Corporation (Rio Tuba) di Filipina dan dua perusahaan China, Zhejiang Huayou Cobalt (ZHC) dan CNGR Advanced Materials (CNGR) yang beroperasi di Indonesia. Adapun nikel merupakan salah satu komponen penting baterai kendaraan listrik.

Peneliti sekaligus representatif BHRRC di Asia Tenggara, Pochoy P. Labog, menyebut hasil riset yang dikerjakan bersama The Legal Rights and Natural Resources Center (LRC) Filipina dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) itu mengidentifikasi adanya pelanggaran hak asasi manusia dan lingkungan di dua rantai pasokan nikel penting di dua  negara tersebut — dan menghubungkan pelanggaran ini dengan perusahaan produsen baterai kendaraan listrik terbesar dunia seperti Panasonic, Tesla, dan Toyota.

Akses laporan lengkap BHRRC disini:

https://www.business-humanrights.org/en/from-us/briefings/powering-electric-vehicles-human-rights-and-environmental-abuses-in-southeast-asias-nickel-supply-chains/

Annisa Rahmawati

Pembina

Annisa Rahmawati adalah seorang perempuan aktivis lingkungan. Mengawali karirnya pada tahun 2008 sebagai Local Governance Advisor pada program kemanusiaan di Aceh – di EU-GTZ International Service yang berfokus pada perawatan perdamaian dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah. Pengalaman dalam bisnis yang lestari dan berkelanjutan didapat dari Fairtrade International sebagai assistant dan di Greenpeace Southeast Asia sebagai Senior Forest Campaigner yang berfokus pada kampanye market untuk komoditas industrial khususnya sawit yang bebas deforestasi sejak tahun 2013-2020. Selain itu Annisa juga pernah bekerja sebagai asisten proyek di UN-ESCAP Bangkok untuk perencanaan pembangunan kota yang lestari pada tahun 2012. Annisa memiliki latar belakang pendidikan di bidang Biologi dari Universitas Brawijaya Malang dan mendapatkan master dari International Management of Resources and Environment (IMRE) di TU Bergakademie Freiberg Germany dengan dukungan Yayasan Heinrich Boell Stiftung. Annisa sangat antusias dan passionate untuk menyebarkan pesan dan kesadaran kepada dunia tentang permasalahan lingkungan dan bagaimana mencari solusi untuk menjadikan bisnis lebih bisa melakukan tanggung jawabnya, serta bagaimana kita bisa bertindak untuk menghadapi krisis iklim yang saat ini sedang kita hadapi.