Jakarta, 10 Maret 2023. Sejumlah organisasi masyarakat sipil mengecam upaya pembubaran paksa oleh orang tak dikenal dalam acara diskusi publik bertajuk “Masa Depan Orangutan Tapanuli dan Ekosistem Batang Toru” yang selenggarakan Satya Bumi bersama SIEJ serta delapan organisasi lain di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis, 9 Maret 2023.

Tindakan tersebut telah mencederai dan mengancam kebebasan berdemokrasi yang sejatinya dilindungi oleh negara. Kebebasan berpendapat dan berekspresi warga negara dijamin oleh konstitusi.

Diskusi yang digelar Satya Bumi bermaksud menghadirkan ruang diskusi yang berimbang untuk membahas dan mencari solusi bersama untuk perlindungan orangutan Tapanuli dan habitatnya. Satya Bumi sudah berupaya mengundang pihak pemerintah seperti KLHK dan Kementerian ESDM, namun perwakilan dari dua institusi tidak dapat hadir. Namun, pada saat diskusi hadir perwakilan PT PLN (Persero), Executive Vice President Konstruksi Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi Weddy Bernadi Sudirman dan anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan. Keduanya menyatakan terbuka mendengar berbagai masukan dan hasil temuan media. Sikap kedua perwakilan lembaga ini patut diapresiasi. Bila ada pihak yang berbeda pandangan dengan suatu diskusi apalagi isu yang diangkat, mestinya menggunakan pendekatan dialogis bukan cara-cara intimidatif.

Diskusi Masa Depan Orangutan Tapanuli dan Ekosistem Batang Toru merupakan tindak lanjut dari liputan kolaborasi yang diinisiasi oleh Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ). Liputan ini menunjukkan dampak langsung dari proyek PLTA yang pada tahun 2019 pendanaannya dibatalkan oleh Bank of China karena sarat masalah, diantaranya ancaman nyata bagi habitat orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang diketahui hanya tersisa 800 individu dan berstatus kritis berdasarkan IUCN Red List. Namun demikian, ternyata masih ada lembaga yang masuk berinvestasi dalam pembangunan proyek PLTA Batang Toru.

Hasil temuan terbaru dari liputan kolaborasi itu diantaranya hasil audit menunjukkan ketidakberesan proyek dan harga listrik yang harus ditebus PLN. Muncul sejumlah nama yang menjadi ultimate beneficial owner dari keberadaan PLTA Batang Toru, sehingga menjadi terang kenapa PLTA Batang Toru (dengan dalih menghadirkan energi bersih) yang sejak awal menuai banyak penolakan, kemudian tetap dilanjutkan.

Selain tindakan intimidatif terhadap diskusi, ternyata penyebaran informasi yang memelintir pernyataan Onrizal, salah satu akademisi Universitas Sumatera Utara yang menjadi salah satu pembicara dalam diskusi, juga sangat masif, salah satu satunya adalah narasi Onrizal yang seolah-olah mendukung proyek PLTA Batang Toru. Onrizal selaku Associate Professor Ekologi dan Konservasi Hutan Tropis USU memang pernah terlibat sebagai ahli dalam penyusunan Amdal PLTA Batang Toru pada 2013. Namun beberapa masukannya mengenai penanganan kerentanan orangutan tapanuli tidak dimasukkan dalam Amdal perubahan. Ia mengaku kecewa dengan sikap pemerintah dalam proyek pembangunan PLTA, karena kondisi orangutan tapanuli kian terancam. Disinformasi yang diduga dilakukan secara terstruktur dan masif tersebut disebarluaskan melalui grup WhatsApp Wartawan Energi.

 

Atas dasar tersebut, Koalisi Masyarakat Sipil Lingkungan Hidup bersama Organisasi Jurnalis Lingkungan SIEJ menyatakan sikap:

  1. Mengecam tindakan intimidasi yang berupaya membubarkan diskusi.
  2. Menyesalkan beredarnya disinformasi dengan mengutip keterangan narasumber secara tidak valid yang diduga dilakukan secara terstruktur dan masif.
  3. Mendorong ruang diskusi seluas-luasnya terkait kontroversi pembangunan PLTA Batang Toru termasuk menyempitnya ruang hidup orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis).
  4. Mendorong pihak yang keberatan atau dirugikan atas peliputan kolaborasi PLTA Batang Toru untuk menggunakan hak jawab/ memberikan mengklarifikasi langsung sesuai kaidah jurnalistik, bukan dengan cara-cara tidak terhormat, tidak bertanggung jawab, dan tidak beretika, menggunakan ‘tangan-tangan’ lain.

Hormat kami,

Jakarta, 10 Maret 2023.

Koalisi Masyarakat Sipil Lingkungan Hidup

  1. Satya Bumi
  2. SIEJ
  3. Eksekutif Nasional WALHI
  4. Auriga
  5. HUMA
  6. Trend Asia
  7. Green Justice Indonesia
  8. ELSAM
  9. Garda Animalia
  10. LBH Pers
  11. Yayasan LBH Indonesia (YLBHI)
  12. PUSAKA
  13. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA)
  14. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)
  15. Public Interest Lawyer Network (PILNET)
  16. Aksi Ekologi & Emansipasi Rakyat (AEER)
  17. Kaoem Telapak
  18. Sawit Watch
  19. Lokataru Foundation
  20. WALHI Sumatera Utara
  21. WALHI Jawa Timur
  22. Yayasan Srikandi Lestari
  23. Kanopi Hijau Indonesia
  24. PENA Masyarakat
  25. Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI)

  1. TuK Indonesia
  2. Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP)

28. WALHI Jambi

Annisa Rahmawati

Pembina

Annisa Rahmawati adalah seorang perempuan aktivis lingkungan. Mengawali karirnya pada tahun 2008 sebagai Local Governance Advisor pada program kemanusiaan di Aceh – di EU-GTZ International Service yang berfokus pada perawatan perdamaian dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah. Pengalaman dalam bisnis yang lestari dan berkelanjutan didapat dari Fairtrade International sebagai assistant dan di Greenpeace Southeast Asia sebagai Senior Forest Campaigner yang berfokus pada kampanye market untuk komoditas industrial khususnya sawit yang bebas deforestasi sejak tahun 2013-2020. Selain itu Annisa juga pernah bekerja sebagai asisten proyek di UN-ESCAP Bangkok untuk perencanaan pembangunan kota yang lestari pada tahun 2012. Annisa memiliki latar belakang pendidikan di bidang Biologi dari Universitas Brawijaya Malang dan mendapatkan master dari International Management of Resources and Environment (IMRE) di TU Bergakademie Freiberg Germany dengan dukungan Yayasan Heinrich Boell Stiftung. Annisa sangat antusias dan passionate untuk menyebarkan pesan dan kesadaran kepada dunia tentang permasalahan lingkungan dan bagaimana mencari solusi untuk menjadikan bisnis lebih bisa melakukan tanggung jawabnya, serta bagaimana kita bisa bertindak untuk menghadapi krisis iklim yang saat ini sedang kita hadapi.